Naya, Londa (2026) TRADISI MOGOMPAT KON LIPU’ SEBAGAI SANKSI PEMBATALAN RENCANA PERKAWINAN PADA PROSESI ADAT SUKU MONGONDOW PERSPEKTIF FIQIH ANTROPOLOGI DI KELURAHAN MONGKONAI KECAMATAN KOTAMOBAGU BARAT. Diploma thesis, Universitas KH.Abdul Chalim.
|
Text (LOGO DAN ABSTRAK)
Logo dan Abstrak.pdf - Published Version Download (959kB) |
|
|
Text (PENDAHULUAN)
Pendahuluan.pdf - Published Version Download (682kB) |
|
|
Text (PENUTUP)
Penutup.pdf - Published Version Download (651kB) |
|
|
Text (DAFTAR PUSTAKA)
Daftar Pustaka.pdf - Published Version Download (617kB) |
|
|
Text (Skripsi full)
SKRIPSI FIKS NAYA LONDA.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (3MB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih diterapkannya tradisi Mogompat Kon Lipu’ sebagai sanksi adat terhadap pihak yang membatalkan rencana perkawinan setelah prosesi Moguman (khitbah) pada masyarakat Suku Mongondow di Kelurahan Mongkonai, Kecamatan Kotamobagu Barat. Tradisi tersebut berfungsi sebagai mekanisme penyelesaian konflik sosial dan pemulihan hubungan antar keluarga yang terdampak akibat pembatalan rencana perkawinan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui bentuk pembatalan rencana perkawinan pada prosesi adat Suku Mongondow, (2) mengetahui mekanisme penerapan sanksi adat Mogompat Kon Lipu’, dan (3) menganalisis kedudukan sanksi adat tersebut dalam perspektif fiqih antropologi dengan pendekatan urf.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, aparat kelurahan, serta pihak yang pernah mengalami pembatalan rencana perkawinan. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembatalan rencana perkawinan setelah prosesi Moguman dipandang sebagai persoalan sosial yang berdampak pada kehormatan dan hubungan kedua keluarga. Penyelesaian konflik dilakukan melalui mediasi oleh lembaga adat dengan melibatkan tokoh adat dan keluarga kedua belah pihak. Apabila mediasi tidak mencapai kesepakatan, maka diterapkan sanksi adat Mogompat Kon Lipu’ sebagai bentuk pertanggungjawaban sosial dan upaya pemulihan hubungan sosial. Ditinjau dari perspektif fiqih antropologi dengan pendekatan urf, tradisi Mogompat Kon Lipu’ termasuk dalam kategori urf ‘amali, urf khas, dan urf shahih karena merupakan kebiasaan yang hidup, diterima, serta dipraktikkan secara turun-temurun oleh masyarakat Mongondow, mengandung nilai kemaslahatan, dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum Islam. Dengan demikian, tradisi tersebut dapat diterima sebagai bentuk kearifan lokal yang berfungsi menjaga ketertiban dan keharmonisan sosial masyarakat.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Mogompat Kon Lipu', pembatalan perkawinan, Moguman, fiqh antropologi, urf. |
| Subjects: | H Social Sciences > HQ The family. Marriage. Woman |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Hukum Keluarga Islam |
| Depositing User: | S1 HKI UAC |
| Date Deposited: | 28 Sep 2026 11:58 |
| Last Modified: | 28 Sep 2026 11:58 |
| URI: | http://repository.uac.ac.id/id/eprint/7055 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

